Kembara, Warung Dadakan, dan Duren Jatuhan: Cerita Berkah dari Gunung Pariuk

Sawah Girang, Gunung Pariuk, Nangkub, Serang — Ada yang datang ke Kembara (Kemah Bela Negara) membawa perlengkapan camping. Ada yang membawa ransel, sleeping bag, jaket, dan perbekalan. Tapi warga Sawah Girang rupanya membawa sesuatu yang tak kalah penting: warung dadakan!
Di tengah suasana perkemahan kader PKS yang berlangsung di kawasan perkebunan durian warga, tiba-tiba bermunculan warung-warung sederhana yang menjajakan berbagai macam kebutuhan peserta.
Mulai dari air mineral, kopi, mie, ayam goreng, bakwan, sampai menu yang paling mengundang rasa penasaran: duren jatuhan!
Maklum, lokasi Kembara kali ini bukan sekadar tempat camping. Para peserta sedang bertamu ke “kerajaan durian” milik warga. Jadi kalau tiba-tiba terdengar bunyi gedebuk! dari arah pepohonan, peserta tidak perlu panik.
Bisa jadi itu bukan ranting patah.
Bisa jadi… rezeki sedang jatuh dari langit.
Bagi sebagian peserta, warung dadakan ini bukan sekadar tempat jajan. Ia adalah bagian penting dari strategi bertahan hidup selama tiga hari di alam terbuka.
Salah satu peserta, Supiyanto, Anggota DPRD Kabupaten Serang dari Fraksi PKS, bahkan mengaku sangat terbantu dengan keberadaan warung-warung tersebut.
“Untung ada mereka. Kalau nggak ada mereka, kita bisa…” ujarnya sambil tersenyum.
Kalimatnya memang belum selesai.
Tapi kemungkinan besar, jawabannya adalah: bisa kelaparan!
Atau setidaknya, bisa terpaksa membuat kopi dengan air seadanya sambil memandangi mie instan dari kejauhan.
Kehadiran warung warga membuat suasana Kembara terasa semakin hidup. Peserta bisa menikmati kopi hangat setelah aktivitas, mengisi tenaga dengan ayam goreng dan bakwan, atau sekadar membeli air mineral sambil ngobrol dengan warga sekitar.
Dan tentu saja, ada satu godaan yang sulit ditolak: durian jatuhan.
Bagi peserta Kembara, durian jatuhan mungkin bisa menjadi bonus tak terduga setelah seharian mengikuti kegiatan. Bagi warga, keberadaan ratusan kader yang datang ke wilayah mereka juga menjadi peluang ekonomi yang mudah-mudahan membawa keberkahan.
Kembara akhirnya bukan hanya tentang belajar bela negara, kedisiplinan, kekompakan, dan ketangguhan di alam.
Ada pula pelajaran sederhana yang tak kalah penting:
Ketika warga dan kader saling memberi manfaat, camping pun bisa terasa seperti pulang kampung.
Kegiatan Kembara kali ini diikuti sekitar 200 kader madya dari Kabupaten Serang dan Kabupaten Lebak. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat, 14 Agustus hingga Minggu, 16 Agustus 2026, di kawasan Sawah Girang, Gunung Pariuk, Nangkub, Serang.
Semoga kehadiran para peserta Kembara bukan hanya meninggalkan jejak kaki di tanah perkemahan, tetapi juga meninggalkan jejak manfaat bagi warga sekitar.
Warung boleh dadakan.
Kopinya boleh sederhana.
Bakwan boleh renyah.
Durian boleh jatuhan.
Tapi keberkahannya, semoga tidak jatuh-jatuh.
Semoga terus mengalir untuk warga Sawah Girang.
Kembara: belajar bersama alam, bertumbuh bersama masyarakat, dan menghadirkan manfaat di mana pun berada.




