Artikel

KETIKA JABATAN LURUH DI BAWAH TENDA KEMBARA

Penulis : Dadang Kuswandi (Peserta Kembara Utama / Kabid Kepemudaan DPW PKS Banten)

Kemah Bela Negara (KEMBARA) DPW PKS Banten bukan sekadar rangkaian kegiatan di luar ruangan. Ia adalah ruang pembelajaran yang menghadirkan sebuah kenyataan sederhana, namun kerap terlupakan, jabatan hanyalah atribut, sedangkan kemanusiaan adalah hakikat.

Di tengah hamparan puncak Gunung Malang dengan ketinggian -+ 900 MDPL, segala simbol kekuasaan seakan ditanggalkan. Tidak lagi terlihat sekat antara pejabat legislatif, Kepala Daerah, pengusaha, akademisi, pimpinan lembaga pendidikan, konsultan, maupun kader biasa. Semua hadir dengan identitas yang sama, peserta Kembara dan kader PKS.

Di tempat itu, tidak ada kursi kehormatan. Tidak ada perlakuan istimewa. Tidak ada privillage yang lahir dari jabatan ataupun kedudukan sosial. Semua duduk sejajar, menikmati setiap rangkaian kegiatan dengan semangat kebersamaan. Mereka makan bersama, berjalan bersama, belajar bersama, dan menaati aturan yang sama.

Nilai kesetaraan itu semakin terasa ketika panitia menerapkan disiplin tanpa pandang bulu. Siapa pun yang melanggar aturan memperoleh sanksi sesuai ketentuan. Tidak ada pengecualian. Bahkan mereka yang sehari-hari dihormati sebagai pejabat publik tetap diperlakukan sebagai peserta biasa. Di hadapan aturan Kembara, jabatan tidak menjadi tameng, melainkan melebur dalam semangat kedisiplinan dan keteladanan.

Saat panitia menerapkan peraturan bagi peserta yang melanggar, diantaranya ada Anggota Fraksi PKS Banten namun tetap mendapatkan perlakuan yang sama dari panitia. (Foto by : Ayip)

Di sinilah pendidikan karakter menemukan maknanya. Ketaatan bukan lahir karena seseorang diawasi, melainkan karena kesadaran untuk menjunjung nilai dan aturan bersama. Sikap “sami’na wa atha’na” kami mendengar dan kami taat, menjadi ruh yang menghidupkan setiap aktivitas, bukan sebagai bentuk kepatuhan membuta, tetapi sebagai latihan membangun disiplin, tanggung jawab, dan keikhlasan.

Kembara Bela Negara memberikan pelajaran yang begitu mendalam bagi setiap kader. Jabatan boleh membuat seseorang dikenal, dihormati, bahkan dipuji oleh banyak orang. Namun semua itu bersifat sementara. Suatu hari, jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan segala bentuk penghormatan dunia akan memudar.

Yang akan tetap tinggal adalah integritas, akhlak, dan amal kebaikan yang telah ditorehkan.

Allah SWT tidak memandang manusia dari pangkat, kedudukan, atau kekayaannya. Kemuliaan seseorang di sisi-Nya diukur oleh ketakwaan dan amal salehnya. Karena itulah, kesetaraan yang terbangun di dalam Kembara bukan sekadar aturan kegiatan, melainkan cerminan dari nilai-nilai Islam yang menempatkan seluruh manusia pada derajat yang sama sebagai hamba Allah.

Momentum seperti inilah yang patut terus dirawat. Sebab ketika atribut dunia ditanggalkan, kita belajar melihat diri dengan lebih jujur. Kita menyadari bahwa kepemimpinan bukan tentang dilayani, melainkan tentang melayani, bukan tentang kehormatan yang diterima, melainkan tentang amanah yang dipikul.

Semua Peserta Kemah Bela Negara PKS Banten duduk samarata dalam setiap sesinya, diantara mereka ada yang masih aktif menjadi pejabat publik mulai Wakil Kepala Daerah, Pimpinan Fraksi, Anggota Legislatif, Konsultan, Akademisi, Pengusaha, dan Jabatan publik lainnya. (Foto by : Ayip)

Pada akhirnya, Kemah Bela Negara DPW PKS Banten mengajarkan sebuah hikmah yang sederhana tetapi sangat berharga: “Setinggi apapun jabatan seseorang, pada akhirnya semua akan kembali menjadi manusia biasa.” Yang membedakan bukanlah kursi yang pernah diduduki, melainkan nilai-nilai yang ditanamkan, keteladanan yang diwariskan, dan pengabdian yang dipersembahkan kepada masyarakat serta kepada Allah SWT.

Karena di hadapan Allah, kita semua berdiri dalam barisan yang sama tanpa gelar, tanpa pangkat, tanpa kekuasaan. Yang tersisa hanyalah iman, amal, dan ketakwaan.

Editor : Ayip

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button