WOI, JEMPOL! JANGAN ASAL SHARE! 😂📱
Di zaman semua orang bisa bikin konten, tantangan Gen Z bukan lagi mencari informasi—tapi memastikan yang lewat di layar itu fakta, bukan sekadar viral.

Oleh: Bidang Komunikasi Digital (Komdigi) DPW PKS Banten
Coba jujur. Pagi-pagi setelah bangun tidur, benda apa yang pertama kali dicari?
Buku pelajaran? Catatan kuliah?
Atau… HP?
Belum benar-benar bangun, jempol sudah bekerja. Buka WhatsApp, lanjut Instagram, pindah TikTok, mampir YouTube. Dalam beberapa menit kita sudah melihat berita, video viral, opini, meme, sampai potongan kejadian yang entah berasal dari mana.
Informasi sekarang memang datang supercepat.
Masalahnya, apakah semuanya benar?
Viral belum tentu benar
Setiap 28 September, dunia memperingati International Day for Universal Access to Information atau Hari Internasional untuk Akses Universal terhadap Informasi. UNESCO menetapkannya pada 2015, kemudian Majelis Umum PBB mengakuinya pada tingkat PBB pada 2019. UNESCO
Tema global tahun 2026 terasa sangat dekat dengan kehidupan pelajar dan mahasiswa: “Upholding Information Integrity in the Digital Age: The role of access to information in addressing information disorder.” Sederhananya, di tengah banjir informasi digital, punya akses saja tidak cukup. Kita juga membutuhkan informasi yang bisa dipercaya. PBB
Nah, di sinilah tantangannya.
Bayangkan ada video 20 detik masuk FYP. Judulnya bikin emosi. Komentarnya sudah ribuan.
Refleks kita kadang langsung:
“Wah, parah nih!”
Lalu share.
Padahal bisa saja videonya sudah lama, potongannya tidak lengkap, judulnya tidak sesuai isi, atau konteks kejadian sebenarnya berbeda.
Jempol kita kadang lebih cepat daripada proses berpikir kita.
Gen Z hidup di tengah banjir informasi
Kebiasaan mendapatkan informasi melalui platform digital bukan hal kecil lagi. Digital News Report 2026 dari Reuters Institute mencatat secara global platform kini lebih populer sebagai sumber berita dibanding televisi maupun situs dan aplikasi berita. Untuk Indonesia, laporan tersebut juga mencatat penggunaan media sosial sebagai sumber berita sedang meningkat, bersamaan dengan penggunaan AI dan video podcast. reutersinstitute.politics.ox.ac.uk
Artinya, informasi tentang dunia tidak selalu datang ketika kita sengaja mencarinya.
Kadang justru algoritma yang mengantarkannya ke layar kita.
Kita nonton satu video, muncul video serupa. Klik satu topik, beberapa menit kemudian timeline dipenuhi topik yang sama.
Karena itu, banyak muncul di timeline bukan otomatis berarti sebuah informasi benar.
Dari “scrolling” naik level menjadi “checking”
Pelajar dan mahasiswa sebenarnya punya modal besar: rasa ingin tahu.
Jangan hilangkan kebiasaan itu.
Kalau menemukan informasi menarik, coba biasakan tiga hal sederhana:
Cek sumber. Pahami konteks. Bandingkan informasi.
Misalnya ada unggahan:
“Mulai tahun depan kuliah gratis!”
Jangan berhenti di judul.
Cari siapa yang menyampaikan. Apakah sudah menjadi kebijakan atau baru wacana? Berlaku untuk siapa? Ada dokumen resminya atau tidak? Kapan informasi itu diterbitkan?
Hanya butuh beberapa menit tambahan.
Tapi beberapa menit itu bisa menjadi pembeda antara ikut menyebarkan informasi dan ikut menyebarkan informasi yang benar.
AI bikin tantangannya makin seru
Sekarang tantangannya bertambah.
Foto bisa dibuat AI. Suara bisa ditiru. Video sintetis semakin realistis. Bahkan tulisan yang terdengar sangat meyakinkan belum tentu berasal dari sumber yang kita bayangkan.
Karena itulah tema Hari Hak untuk Tahu Sedunia tahun ini menyoroti information integrity. PBB menekankan bahwa di dunia digital yang dipenuhi informasi, misinformasi, dan disinformasi, masyarakat membutuhkan informasi publik yang tepat waktu dan kredibel, sekaligus literasi media dan informasi. PBB
Jadi kalau suatu hari melihat video yang bikin kita spontan berkata:
“Gila, ini beneran?”
Bagus.
Pertahankan pertanyaan itu.
Jangan langsung berubah menjadi:
“Gila, share ah!”
Jangan cuma jadi konsumen informasi
Ada satu hal yang kadang terlupakan.
Saat kita menekan tombol share, repost, retweet, atau forward, posisi kita berubah.
Kita bukan lagi sekadar orang yang menerima informasi. Kita sudah menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi.
Satu unggahan mungkin hanya dikirim ke lima teman. Lima orang meneruskan lagi. Tidak lama kemudian, sesuatu yang belum jelas kebenarannya bisa beredar ke mana-mana.
Karena itu, kebiasaan kecil ini layak dicoba:
Lihat → tahan sebentar → cek → pahami → baru share.
Nggak perlu jadi ahli fact-checking. Yang penting jangan malas bertanya:
“Sumbernya mana?”
Kepo itu boleh, asal kepo berfaedah 
Hak untuk tahu bukan berarti kita harus tahu semua urusan orang lain.
Bukan juga tiket untuk:
“Kak, mantannya sekarang sama siapa?”
Yang dimaksud akses universal terhadap informasi berkaitan dengan hak untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi. Akses terhadap informasi yang dapat dipercaya membantu masyarakat membuat keputusan berdasarkan informasi dan ikut membangun kehidupan publik yang lebih transparan dan akuntabel. PBB
Bagi pelajar dan mahasiswa, semangatnya sederhana: jangan kehilangan rasa ingin tahu, tetapi arahkan rasa ingin tahu itu kepada sumber yang tepat.
Jadi, Gen Z harus bagaimana?
Kita tidak perlu berhenti menggunakan TikTok, Instagram, YouTube, podcast, atau platform digital lainnya.
Nikmati teknologinya.
Scroll boleh. Bikin konten boleh. Diskusi boleh. Beda pendapat juga biasa.
Tapi tambahkan satu kebiasaan baru:
Jangan cuma cepat scroll. Harus cepat cek juga.
Karena di zaman ketika informasi bisa dibuat dan disebarkan dalam hitungan detik, orang yang keren bukan selalu orang yang paling cepat tahu.
Kadang justru orang yang paling bijak adalah orang yang berani berhenti sebentar dan bertanya:
“Ini benar nggak, sih?”
Selamat Hari Hak untuk Tahu Sedunia, 28 September 2026.
Mari jadi generasi yang bukan hanya haus informasi, tetapi juga cerdas memilih informasi.
Cari tahu. Cek sumber. Pahami konteks. Baru percaya.
Bidang Komunikasi Digital (Komdigi)
DPW PKS Banten




