PAGI SHOLAT ISTISQO, SIANG DIGUYUR HUJAN

PANDEGLANG — Di tengah kemarau yang melanda sejumlah wilayah, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pandeglang mengajak masyarakat bermunajat melalui sholat istisqo. Ikhtiar meminta turunnya hujan itu digelar di Lapangan Maja Barat, Kelurahan Sukaratu, Kecamatan Majasari, Pandeglang, Rabu (9/9/2026).
Sekitar 150 orang mengikuti sholat istisqo yang dimulai pukul 08.00 WIB. Mereka terdiri atas kader PKS Zona 1 dan 2, pengurus DPD PKS Pandeglang, serta warga sekitar.
Sholat istisqo digelar sebagai ikhtiar bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan. Kehadiran hujan diharapkan tidak hanya mengatasi kebutuhan air masyarakat yang mulai terdampak kemarau, tetapi juga membantu mengurangi penyebaran abu vulkanik yang dirasakan masyarakat sebagai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau beberapa hari terakhir.
Ketua DPD PKS Kabupaten Pandeglang, Dodi Setiawan, mengatakan kemarau yang terjadi saat ini bukan hanya persoalan Pandeglang, tetapi menjadi kondisi yang dirasakan di berbagai daerah di Indonesia.
“Musim kemarau ini sudah melanda hampir seluruh wilayah Indonesia. Dampaknya mulai terasa, seperti kekeringan dan meningkatnya kerentanan terhadap kebakaran,” kata Dodi.
Menurut dia, dalam menghadapi kondisi tersebut masyarakat tidak hanya membutuhkan ikhtiar secara lahiriah, tetapi juga ikhtiar batin dengan memohon pertolongan Allah SWT.
“Karena itu, kami PKS Pandeglang, atas arahan Presiden PKS, H. Al Muzammil Yusuf, menggelar sholat istisqo bersama masyarakat. Ini adalah ikhtiar kita, memohon kepada Allah agar hujan segera diturunkan dan membawa manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ikhtiar tersebut kemudian disambut kabar baik. Pada siang hari di tanggal yang sama, hujan turun di sejumlah wilayah Pandeglang, antara lain Karangtanjung, Cadasari, Koroncong dan sekitarnya.

Warga Karangtanjung, Eno Yulia, yang juga Sekretaris Dewan Etik Daerah (DED) PKS Pandeglang, menyaksikan langsung turunnya hujan sekitar pukul 14.20 WIB.
Dengan penuh rasa syukur, Eno menyebut hujan tersebut menjadi sesuatu yang sangat dinantikan masyarakat setelah berbulan-bulan menghadapi kemarau.
“Alhamdulillah, hujan turun. Ini pertama kalinya kami merasakan hujan setelah beberapa bulan kemarau. Tentu kami sangat bersyukur,” Ungkap Eno.
Bagi masyarakat, turunnya hujan setelah pelaksanaan sholat istisqo menjadi momentum untuk kembali menguatkan rasa syukur sekaligus menyadari pentingnya menjaga sumber air dan lingkungan.
“Semoga hujan ini membawa berkah dan Allah SWT melimpahkan banyak manfaat melalui air hujan ini,” ujar Eno.
Sholat istisqo pun bukan sekadar ritual meminta hujan. Di tengah kemarau dan dampak abu vulkanik, kegiatan tersebut menjadi bentuk ikhtiar bersama sekaligus pengingat bahwa menghadapi persoalan lingkungan membutuhkan kepedulian, doa, dan tindakan nyata secara bersamaan.




